RSS

CERITA DIBALIK LAYAR (Catatan dari Acara Live on Playlist SCTV bersama ROSSA, Jum’at 23 Oktober 2009)

27 Okt



Kawan, kawan….!

Banyak hal besar yang dilakukan orang untuk memperoleh arti. Tapi tak sedikit pula hal kecil yang diterima orang untuk memperoleh arti. Besar dan Kecil, tentu punya porsi dan tempatnya masing-masing. Keduanya menjadi relatif dalam ukuran, waktu, ruang, kesempatan, dan terutama dalam soal nasib dan pilihan-pilihan hidup untuk menjadi bahagia.

Dalam hidup, adakalanya tiap 24 jam waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, tidak semuanya menjadi berarti, selain realitas dan rutinitas keseharian yang suka atau tidak, diinginkan atau tidak, harus kita jalani. Adakalanya dari 24 jam waktu itu, hanya beberapa menit saja yang cukup membuat kita memperoleh sesuatu yang baru, yang tidak diduga, yang dapat mengubah cara pandang kita atau setidaknya menambah cakrawala pemahaman kita dalam mempersepsikan hidup.


Yang aku dan kedua temanku alami kemarin pun boleh jadi mencerminkan hal itu. 5 jam menempuh waktu di perjalanan Jakarta-Sumedang, menempuh kemacetan, kepanasan, dan hiruk pikuk kota jakarta, cuma sekedar sarana untuk merasakan sesuatu ketika 10 menit saja waktu yang tersedia untuk merubah kesempatan yang ada menjadi berarti.

Rabu malam, 21 Oktober 2009, seseorang bernama Miranda Suz memintaku menjadi teman dalam Facebook. Ia menyampaikan salam kenal, lalu mengaku ingin tahu banyak hal tentang Rossa. Dengan menahan heran, aku konfirmasi permintaanya. Sejenak kemudian muncul banyak pertanyaan dibenakku; siapa dia? Mengapa harus aku yang diajaknya bicara tentang Diva Indonesia itu?

Aku segera mengiriminya message via inbox, dan kuungkapkan pertanyaanku. Ia tak segera menjawabnya. Keherananku bertambah. Maka aku pun mengontak Rossa via SMS. Kusampaikan apa yang terjadi. Lalu sahabatku itu pun menjawab; “selama pertanyaanya nggak aneh-aneh, ya nggak apa-apa,” kira-kira begitu jawabnya

Beberapa saat kemudian, barulah Miranda menjawab message yang kukirim. Katanya, dia ingin membuat kilas balik tentang Rossa yang akan ditayangkan dalam acara Playlist di SCTV. Ia menghubungiku, karena ia mengaku telah membaca tulisanku tentang Rossa, di Blog-ku.

Dengan demikian, hilanglah keherananku. Setelah jelas, dan terutama setelah kukantongi “izin” dari Ocha, kukatakan saja kesiapanku membantunya. Kusampaikan nomor HP-ku, dan besok kami sepakat bertemu.
Aku jadi termenung. Maklum, bagi orang kampung sepertiku, masuk dalam acara TV nasional, ditonton jutaan pemirsa, adalah sebuah kesempatan yang sangat langka. Boleh jadi cuma sekali seumur hidup. Tapi tanpa pernah diduga, kesempatan ini tiba-tiba di depan mata. Dan bagi orang kampung sepertiku, itu membuatku salah tingkah, gelisah, tak sabar menunggu esok.

***

Kamis siang, 22 Oktober 2009, kuterima telpon dari Miranda. Katanya, aku ditunggu di kampus SMAN 1 Sumedang, sekolah paling favorit di kotaku. Sekolah yang telah melahirkan banyak orang besar dengan berbagai bakat emas yang dimilikinya. Dan bagiku dalam hal ini adalah, sekolah yang telah mempertemukan aku dengan sahabat-sahabat terbaikku yang salah satunya kini telah menjadi seorang Diva Musik Indonesia. Tiga tahun belajar bersama, nakal bersama, senang sedih bersama, menyisakan banyak hal yang pantas dikenang dalam perspektif masing-masing.

“Assalamu’alaikum!,” kataku menyapa kru yang nampak telah siap melaksanakan tugasnya.

“Waalaikumsalam, saya Bagas!” kata salah seorang dari mereka yang pertama menyambutku. Ia pun mengenalkanku pada rekan-rekan kru yang lain. Kusalami satu-satu. Dan yang namanya Miranda paling akhir ku salami. Ia di dalam mobil dan nampak sibuk menelpon.

Tanpa basa-basi, Bagas pun menjelaskan rencana kerjanya. Ia jelaskan aku harus begini dan begitu. Aku manggut-manggut saja, antara mengerti dan tidak. “Yang penting, aku masuk TV!”, pikirku sambil menahan tawa dan gejolak narsis yang tiba-tiba saja memenuhi adrenalinku.

Setelah Bagas jelaskan rencana, aku pun terus terang kalau aku telah mengkonfirmasi soal ini ke Rossa. Dan mereka pun terbelalak. “Jadi, mas sudah mengontak Mbak Ocha?” kata mereka terperanjat.

“Waduh mas, kita ini mau bikin surprise, wah gimana nih?”, kata Anggi, yang dikenalkan padaku oleh Bagas sebagai Sutradara acara ini. Ia nampak bingung. Bola mata dari balik kaca mata minusnya nampak membesar, wajahnya menyiratkan kecewa. Ia pun menoleh ke arah Miranda.

“Ya udah nggak apa-apa, lanjut saja!,” ujar Miranda sambil kembali meneruskan kegiatannya dalam mobil, menelopon.

“Ya udah mas, nggak apa-apa. Kita terus aja. Kita juga salah koq, lupa ngasih tau,” kata Bagas memecah kebingungan.

“Ya mas, kita ini susah lho nyari-nyari info tentang masa-masa sekolah Rossa. Kupikir ia SMA-nya di Bogor, satu sekolah sama Ivan Gunawan,” kata Anggi menambahkan. Ia pun lalu berdiskusi dengan Bagas dan kru yang lain.

Aku sendiri jadi mulai nggak enak. “Satu hal penting yang akan menjadikan acara ini menarik nampaknya sudah hilang,” pikirku. Maksudku mengontak Ocha sebelumnya, sekedar berhati-hati. Sejak remaja aku bersentuhan dengan dunia politik, dan terlibat banyak hal dalam proses politik di tingkat lokal. Pengalaman dan sense kala bersentuhan dengan dunia politik itu, membentuk cara berfikir dan bersikap “hati-hati” dalam berhubungan dengan orang yang belum dikenal.

Singkat cerita, kami pun langsung shooting. Beberapa angel sudah dibuat. Dan ada juga yang harus diulang karena aku mungkin nampak gugup. Maklumlah, selain karena skenario dadakan, narasi dadakan, ekpresi dadakan, juga terutama karena ‘’orang kampung” ini pertama kali masuk TV..hehehehe.

Pada waktu jeda, sambil menunggu ide, Bagas, Anggi, dan Miranda serta seorang kameramen nampak terus berdiskusi. Aku sendiri pun mencari ide, agar nilai surprise acara itu pun dapat kembali diperoleh. Aku ingin menghargai kerja keras kru, yang katanya begitu sulit mencari cerita SMA sang Diva.

Aku coba larut dalam alam pikiran Miranda yang nampak pucat lelah (mungkin lagi sakit, pikirku), Bagas yang tetap senyum dan mencoba menerima keadaan, atau Anggi yang nampak serius, seserius aku bila mengahadapi rapat-rapat internal. Aku berniat menelepon temen-temen sekelas Ocha yang tentu paling dekat dan punya lebih banyak cerita tentang Ocha. Tapi kutau kebanyakan dari mereka tinggal di luar Sumedang.

Tiba-tiba kuingat temanku yang memang sejak SMA dikenal dengan sikapnya yang periang, heboh, dan tentu saja punya daya tarik tersendiri karena sedikit kemiripan wajahnya dengan Pelawak Wahyu Sardono (Dono Warkop). Namanya Adi Cahyadi. Tapi teman-teman memanggilnya Si Dono.

Aku ingat kalau dia pernah memergoki Ocha nge-date di sekolah. Aku ingat pula kalo Ocha pernah godain dia saat gigi depannya ompong. Ocha datang ke kelasnya, dan hanya meminta dia satu hal, agar dia mau tersenyum atau ketawa sekedar memastikan gosip kalo Gigi Depan Dono tanggal, dan jadi Ompong.

Akhirnya kutelepon saja dia. Kuminta ia segera datang. Ia menjawab dengan ketidakpercayaan, dan nada suaranya penuh ketidakyakinan. Maklum pula, di antara kami kadangkala sering saling mengerjai. Tapi kupastikan dan kuyakinkan dia bahwa ini serius. Dia pun berjanji datang.Lalu kubilang ke Bagas soal Dono ini. Bagas pun menyetujui. Kita semua akhirnya nunggu Si Dono datang.

Tak lama, Dono datang. Wajahnya masih tetap menampakkan keheranan, tapi kutahu betul ini sangat menyenangkan dia. Kuingat kalo ia pun pernah punya cita-cita masuk TV, entah jadi apa…(hahahaha sory Don..). Kita pun akhirnya segera menyelesaikan shooting Back to Schol ini. Setelah usai, Anggi bilang pada aku dan dono, kalau kami berdua diminta hadir dalam acara Playlist secara Live sebagai daya dukung nilai Surprise acara ini. Aku dan Dono segera menyanggupinya.

***

Jumat, 23 Okotber 2009, pagi. Aku kontak Dono. Aku konfirmasikan jadi tidaknya kita berangkat ke Jakarta. Aku tau Dono bingung. Anaknya sakit. Tapi Dono kemudian menyatakan siap berangkat. Maka sekitar jam 10 pagi kita berangkat.

Di perjalanan menuju Bandung, Dono bilang sudah mengajak Asep IG. Alasan Dono, selain karena IG pun teman kami sejak SMP, nilai lebihnya adalah agar ada yang hapal jalan-jalan di Jakarta, dan gantian nyetir mobil. Aku memang sampai hari belum bisa menyetir mobil. Masih trauma.

Sepanjang jalan, kita bicarakan banyak hal, becanda dan mengkhayal habis-habisan. Semua masa lalu sejak kami duduk di bangku SMP terbahas dalam pembicaraan sepanjang jalan. Yang aneh-aneh dan lucu-lucu dari kelakuan masa kecil kami, terceritakan kembali. Segala cerita tentang cinta, cinta monyet, cinta karet, cinta kepepet, dan cinta-cinta lainnya pun menyelingi derai tawa kami sepanjang jalan.

Tak terasa, Jam 14.00 kami sudah masuk Jakarta via Tol Cawang. Bagas yang menghubungiku, menugaskan Pak Muslim untuk menyambut kami. Tapi ya itu, “orang kampung” masuk Jakarta, nyari jalan aja susah. Untunglah, segera kita dapat solusi, dan menemukan tempat janjian ketemu Pak Muslim.

Beberapa saat kemudian kita sampai di Studio Penta SCTV. Gerbangnya dijaga satpam, dan masuk ke area studio pun nampak dijaga lagi. Wah gila…ketat amat. Ketika hendak masuk ke area studio utama, Pak Muslim lupa mengenalkan kami pada satpam. Maka satpam pun sempat menahan kami sejenak dan bertanya, “Kamu siapa?,” katanya. Ih…wajahnya galak banget. Aku, Dono dan IG saling berpandangan. Pak Muslim balik ke belakang, dan dia bilang bahwa kami adalah temannya Rossa. Tiba-tiba saja Pak Satpam jadi ramah dan persilahkan kami masuk.

Kami pun langsung dibawa ke “tempat persembunyian”. Kalau teman-teman ingin melihat wajah polos paling asli nan culun, barangkali bisa melihat ketika kami bertiga berada di dalam area studio itu. Sambil menunggu acara berlangsung, di “tempat persembunyian”, tingkah kami aneh-aneh, sebagai kompensasi dan perlawanan atas rasa minder, rasa rendah diri, rasa malu, canggung, bingung, asing, dan berat hati kami menjadi orang populer di kampung kami, hehehehe…. Duh gimana ya rasanya…sulit tergambarkan…

Dono begitu sibuk menelepon orang tua, sahabat, kerabat, handai taulan….”Mak…aku masuk TV bareng Rosaa…!” kira-kira begitu.

Ige dari tadi cuma diam, wajahnya pucat pasi, keringat dingin, senyumnya menyeringai aneh, dan suaranya bergetar. Dia berfikir, bagaimana jika di acara sebentar lagi, Ocha menyambut kami dengan kalimat, “Siapa kalian? Aku nggak kenal…?!” Terbayang rasa malu dibenak Ige yang harus dia tanggung seumur hidup.

Aku sendiri lebih banyak diam, mengamati kelakuan kedua temanku. Sesekali kubaca sms yang masuk. Banyak yang bertanya dan komentar penasaran. Karena sahabatku, Lenny YH sudah membuat pengumuman di status FB-nya: “Saksikan Ncus, Dono, dan Ige feat Rossa di SCTV jam 15.00”. Sebuah pengumuman yang bombastis sekaligus narsis abis…!! Hahahahah thanks Nie…

Aku mencoba tenang. Tapi memang sulit. Terutama karena di tempat persembunyian itu ber-AC, sehingga aku nggak bisa merokok. Aku tak bisa tenang tanpa rokok dan Kopi. Nikotin dan Capein sejak aku hidup dari dunia tulis menulis, pikir memikir, konsep mengonsep, memang jadi teman sejatiku.

“Ini studio SCTV, tapi koq TV nya banyak semut ya, nggak jauh beda dengan di Sumedang?” kataku memecah ketegangan. Dono menimpali dan mencoba membetulkan kabel antena TV yang memang gambarnya kesemutan.

“Tenang Ge… jangan tegang. Apalagi yang bawah, bisa gawat tuh kalo nanti ketemu Cathy Sharon” kataku menggoda Ige. Nampak tawa tertahan di wajahnya. Si Dono ketawa cengengesan. Kita pun kemudian berembuk, kira-kira apa yang akan dilakukan untuk membuat Ocha merasa surprise.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kami dibawa orang SCTV keluar tempat persembunyian menuju belakang panggung. Di sana Ocha nampak mulai action. Dan kami disiapkan untuk masuk oleh petugas yang nampak repot dengan kabel, peralatan radio komunikasi.

Melihat postur tubuh, Dono di tempatkan paling depan, disusul Ige, dan aku yang memang paling tinggi, ada dibelakang barisan. Saat itulah, dengan segala kepolosan, keluguan, keculunan, dan kekampung-kampungan, kami merasa sebagai bintang dadakan. Ya…..itu faktanya.

Kami pun masuk. Dan hasilnya, ya seperti yang pemirsa Playlist SCTV saksikan. Sampai hari ini pun kami belum tahu seperti apa penampilan kami saat ini. Kami ikuti alur acara. Rasa kami larutkan saja dalam suasana. Seadanya, sekenanya. Tanpa mengada-ngada. Barangkali itulah kami aslinya.

***

Selesai acara kami, kami pun diminta ke belakang panggung. Kami diminta Rossa untuk nunggu. Dia masih harus nyanyi satu lagu terakhir. Banyak orang dan banyak pihak disitu. Ada yang ribut minta tanda tangan dan foto bareng. Bukan pada kami. Tapi pada Ocha dan artis-artis pengisi acara. Ada Acha Septiasa, Cathy Sharon, dll.

Setelah acara selesai, Ocha pun menghampiri kami. Tapi lagi-lagi dikerumuni penggemarnya. Kita senyum cengengesan. “Kita ini bintang tamu, nggak level foto bareng Ocha saat ini,”kata Dono nada becanda dan cengegesan. Padahal dia pun lagi nyari-nyari kesempatan bisa foto barenag Acha Septiasa.

Menjelang keluar pintu luar studio, wartawan infotainment sudah berkerumun menunggu Ocha. Kami bertiga menyelinap keluar. Mbak Henny, dari management Rossa, dan Pak Muslim menyertai kami memasuki mobil kami. Katanya, kita makan dulu bareng Ocha yang setelah sedikit berkomentar pada wartawan, memasuki Mobil Toyota Alphard nya.

Kami diajak Mbak Henny masuk ke areal Resto “Bumbu Desa”. Sementara mobil Rossa, terus lurus melaju. Tanpa bertanya, kami ikuti saja Mbak Henny. Baru setelah duduk di kursi meja resto, mbak Henny bilang, Rossa ada dulu urusan. Kita dipersilahkan pesan duluan. Tapi aku memilih mengajak dulu temen-temen menunaikan Sholat Ashar.

Sewaktu hendak berwudhu, Dono becanda, “Waduh, aku nggak tega nih cuci muka, sayang, nanti bekas pipi Ocha luntur, deh!” katanya sambil tegelak. Aku dan Ige pun terbahak-bahak.Pak Muslim yang ikut Sholat bareng kami, cuma senyum-senyum aja. Bagi beliau, yang katanya tiap hari ketemu artis, semua ini nampak biasa-biasa saja.

Singkat cerita, kita pun makan bareng Ocha di resto itu. Kita ditraktir, kayak jaman dulu waktu SMA. Ocha nampak ceria, bebas, dan melepaskan sejenak atribut keartisannya. Dia tampil saat itu jadi sosok yang pernah kami kenal dulu. Sosok Ocha yang periang dan suka guyon. Aku menoleh ke Mbak Henny, dan 2 orang lain dari management Ocha yang turut hadir. Nampak mereka “olohok” saja liat Rossa becanda akrab bersama kami.

Tepat menjelang Maghrib, kami pun pamit pulang. Ocha menyalami kami dengan hangat dan kami pun segera meluncur menuju tol ke arah pulang. Pak Muslim yang memandu kami, sampai akhirnya berpisah menjelang pintu tol.

***

Sekali lagi kukatakan, kawan…!

Aku tetaplah aku, anak kampung yang tiba-tiba tersanjung gara-gara masuk TV. Aku mendapatkan bagian kecil saja, dan boleh jadi tidak ada artinya bagi Rossa, anda atau siapapun. Tapi biarlah Aku, Dono, dan Ige yang merasakan semua ini sebagai sesuatu dan tercatat menjadi sejarah hidup kami. Boleh kan, narsis dikit? Hehehehe…paling tidak aku, dono, dan Ige bisa menambah bahan canda kami.

Terima kasih SCTV . Terima kasih Pak Muslim…Mbak Miranda, Mas Bagas, Mas Anggi, dan semua kru yang terlibat. Mudah2an kita dapat ketemu lagi. Kalau lewat ke Sumedang, jangan sungkan mengontak kami, nanti kita makan Tahu Sumedang, oleh-oleh khas kota kami.

Salam

Iklan
 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2009 in Artikel

 

Tag: , ,

11 responses to “CERITA DIBALIK LAYAR (Catatan dari Acara Live on Playlist SCTV bersama ROSSA, Jum’at 23 Oktober 2009)

  1. Ruri

    12 November 2009 at 10:41

    waaah seru ncus, ternyata yg diundang ncus ya…laaah kok dono yg aktifna siiih hahaha….tp emang bener beberapa menit saja cukup membuat kita memperoleh sesuatu yang baru dan susah dilupakan tea… yg pasti ocha emang baik, jaman kuliah udah beberapakali ketemu dan masih hafal temennya (meureun…ga tau iya iya aja kali membuat orang senang hehe).

    btw…selamat ya udah masuk TV, cita2 dono terkabul dan ige yg terkaget2 hehe…

     
  2. Lenny

    15 November 2009 at 21:27

    hahaha … selamat deh sdh memperoleh pengalaman yg tak terlupakan … ( lucu n ‘pikaserieun’ liat kalian bertiga muncul bareng di tv )

     
  3. anggie

    17 November 2009 at 05:38

    wah saya ngakak baca ini tulisan, setiap scene saat suting tak terlewatkan…apalgi waktu nonton ocha di tayangkan vtnya, dia termehek mehek…malu minta ampun saat scene ke gep pacaran di kamar mandi sekolah…
    hahaha…sampai ketemu lagi ya kang ncus…sukses!!!

     
  4. Kurniawan

    21 November 2009 at 16:55

    @Ruri: He he he…. tak terlupakan Ru…

    @Lenny: Iya Nie…Thank’s banget atas “upaya” mengabadikan momen “bersejarah” ini… Duh kalo waktu itu sempet ikut, pasti kebagian dech..hehehe

    @Anggie: Iya..Makasih Berat Bos…!! Mudah-mudahan, lain kali, kita-kita yang jadi Pemeran Utama ya…ha ha ha…

     
  5. penuai

    21 November 2009 at 17:18

    pengen dunk ketemu ama rosa…..
    enak yachh bisa kerja di TV

    DOWNLOAD E-BOOK AKHIR ZAMAN GRATIS
    http://www.penuai.wordpress.com

     
  6. Kurniawan

    22 November 2009 at 02:17

    Penuai, ha ha ha…. aku nggak kerja di TV mas… cuma punya sedikit kesempatan masuk TV hehehe…lumayan

     
  7. Toko Buku Online

    25 November 2009 at 14:49

    okay dsehhhhhhhhhhhhhhhh

     
  8. Anonim

    25 November 2009 at 23:16

    hahaha…aa nchusss…ada lucunya..terharu juga, sayang aku ngk nonton..coba dikash tau, pasti aku bela2in ngumpet dikantin..biar bisa nonton..hehehehehe..tapi selamat ya?..ngomong2 dpt honor ngk?……

     
  9. intan

    25 November 2009 at 23:18

    koment yg diatas aku lho……lupa kasih nama hehehehehe

     
  10. Aip

    4 Januari 2013 at 09:55

    Haji dede alias hade….hehe…

     
  11. Miranda Suz (@MirandaSuz)

    28 Januari 2017 at 07:57

    Astaga aku baru baca tulisan mas setelah hampir 10 tahun..semacam nostalgia..sukses selalu mas maaf kalau ada salah-salah perkataan dan perbuatan. Salam. Miranda 🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: