RSS

AMBIGUITAS DEMOKRASI

02 Jan

“I Disapproved of what your say,
but I will defend to the death your right to say it.”

“Saya tidak setuju dengan apa yang anda katakan. Tetapi saya akan bela mati-matian Hak anda untuk mengatakannya”. Demikian kata seorang filosof Perancis bernama Voltaire, yang banyak dikutip orang ketika bicara tentang demokrasi.

Sayang sekali pada jaman ini kita sukar untuk tahu dan menempatkan dalam konteks apa Voltaire mengemukakan sikapnya. Banyak orang kini men-generalisasi-kan pesoalan dan hanya membayangkan sesuatu yang indah dan harmonis dari demokrasi, menganggap demokrasi sebagai nilai universal yang terbaik dalam membangun kehidupan masyarakat. Kemudian banyak yang menginginkan sistem ini diterapkan di segala aspek kehidupan dan menuntut agar setiap orang sama hak dan nilainya, tanpa batasan waktu, tempat, dan kapasitasnya. Tidak berbeda antara profesor dengan tamatan sekolah dasar, atau ulama dengan seorang bromocorah sekalipun. Setiap pemikiran, apapun bentuknya harus diakui eksistensinya. Suara mayoritas adalah penentu. Itulah demokrasi. Nurcholis Madjid pernah mengatakan, bahkan tuyul pun harus kita terima sebagai presiden jika ia memang dikehendaki oleh rakyat (sebagai suara mayoritas).

Dalam hal mencari Kebenaran, diskusi memang harus bebas, lepas dari tekanan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun juga. Ada kemerdekaan setiap orang di sana dan pengakuan atas hak untuk merdeka bagi seseorang dalam mengemukakan pandangannya. Dan pada saat yang sama orang itu pun juga harus terbuka terhadap pendapat orang lain. Keragaman pikiran dan pandangan yang ada diharapkan akan sampai pada kesimpulan yang menyeluruh dan menjadi komitmen bersama untuk melaksanakannya. Pada konteks ini prinsip Voltaire bisa dijadikan pegangan.

Persoalannya kemudian adalah, siapa dan dalam urusan apa mestinya seseorang boleh terlibat banyak? Bisakah semua orang boleh dan berhak terlibat dalam setiap urusan? Dari pertanyaan-pertanyaan ini kita sampai pada kesimpulan: tidak mungkin dalam urusan para pakar kita mensejajarkan nilai seorang Ulama dengan seorang Bromocorah. Kacau jadinya jika urusan Operasi Jantung ditangani seorang dokter spesialis penyakit kulit. Diskusi untuk membahas hal-hal khusus, akan hilang substansinya dalam arena heterogenitas pengetahuan dan spesialisasi. Maka pada konteks ini prinsip Voltaire tersebut layak dipertanyakan.

Dalam arena politik, di mana kepentingan sering lebih menonjol daripada maksud mencari Kebenaran, pensejajaran nilai suara seorang Bandit dan Ulama akan sangat berbahaya. Dalam tatanan masyakarat yang didominasi oleh para bandit atau orang yang berhati bandit, maka penonjolan tokoh dan ideologi banditisme adalah sangat mungkin. Itu sah-sah saja menurut demokrasi. Justru akan dianggap aneh, jika figur ulama atau santri menonjol di sana. Tetapi tentu saja akan ada yang mencak-mencak marah, termasuk dalam hal ini saya, jika Indonesia dan Kabupaten Sumedang khususnya dikatakan sebagai tatanan masyarakat yang mengusung banditisme. Cuma jika ini sampai terjadi, maka “Kebenaran”, “Pembangunan”, “Kesejahteraan” dan jargon-jargon lainnya akan kehilangan makna. Kebenaran seperti apa lagi yang dilahirkan dalam versi figur seorang tuyul? Inilah runyamnya demokrasi. Karena itu Mohammad Natsir berpesan, “Kalau saudara bermaksud menanam padi, maka selain dipupuk dan diairi, harus juga disiangi. Rumput-rumput yang tumbuh harus dibersihkan. Jangan biarkan tikus hidup disitu.”

Pengakuan dan penghormatan terhadap eksistensi segala bentuk pemikiran dan aktivitas yang berkembang di masyarakat tanpa membedakan niat, motivasi, sikap dan perilaku, dalam pesan Dr. Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri Republik Indonesia), menjadi sesuatu yang tertolak. Tidak bisa sesuatu yang positif berjalan seiringan degan hal-hal yang negatif. Islam pun mengajarkan untuk mengajak kepada Kebenaran (di satu sisi) dan mencegah/menolak Kemungkaran (di sisi yang lain). Jadi tidak mungkin membiarkan aktivitas riba dan perjudian kalau bangsa ini ingin membangun etos kerja dan ekonomi yang mapan. Tidak mungkin akomodatif terhadap kebohongan dan penipuan, kalau kita semua ingin menegakkan kejujuran dan keadilan. Adalah suatu Kesalahan Besar jika para orang tua mendidik kader-kader politisi partai tentang kebaikan, nilai-nilai perjuangan dan idealisme, tetapi pada saat yang sama “memperkenalkan” kepada mereka, memberi contoh kepada mereka, hal-hal yang merusak perjuangan dan idealisme itu sendiri.

Ada memang orang yang berpendapat biarkanlah semua itu tumbuh berbarengan, dan diserahkan semuanya kepada rakyat. Toh rakyatpun pasti akan tahu mana yang benar. Tetapi patut dicatat: Politik bukan semata-mata untuk Politik itu sendiri. Pembangunan bukan sekedar untuk Pembangun semata. Tetapi kata Pak Natsir, juga untuk manusia yang membutuhkan dan menikmati keberhasilan pembangunan itu.
Sekali lagi, itulah demokrasi. Ambiguitas ada di sana. Bagaimanapun nilai kebebasan menonjol di sana, tetapi tetap ada batas-batas hak dan kewajiban. Karena itulah pada akhirnya, demokrasi adalah sebuah pengakuan yang jujur tentang segala keterbatasan manusia. Sesuatu yang ada dan alternatif terbaik di antara yang terjelek. Selebihnya dari itu, demokrasi adalah keyakinan bahwa kekuasaan pun perlu berlandaskan moral dan pembatasan diri secara sukarela. * * *

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2010 in Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: