RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

TANJAKAN CAE TIDAK ANGKER

Sejak peristiwa Bus Maju Jaya Bernopol Z 7661 A terguling masuk jurang di betulan Cilangkap Desa Sukajadi Kecamatan Wado Kab Sumedang, Rabu 01/02/2012, Sumedang kota kami nampak sibuk dan ramai oleh para pencari berita. Kesibukan terutama terlihat di Markas Polres Sumedang, RSUD Sumedang, dan tentu saja di tempat kejadian.

Apa dan bagaiaman sebenarnya tanjakan Cae itu? Saya ingin berbagi sedikit hasil wawancara saya dengan dua orang putra Desa Cikareo Wado Sumedang. Tulisan ini dimuat di Harian Radar Sumedang, Edisi Sabtu, 04/02/2012.

Bukan sekali itu saja Tanjakan Cae di jalur lalu lintas Sumedang-Tasikmalaya via Wado betulan Cilangkap Desa Sukajadi Kec Wado menjadi sumber kisah petaka. Sekitar pertengahan dekade 1980-an, Ki Jebrag Group, sebuah grup kesenian calung yang kepopulerannya saat itu nyaris setara dengan Darso, Sang Maestro Calung asal Bandung Jawa barat, mengalami kisah tragis. Truk yang mengangkut kru dan peralatan kesenian calung milik grup tersebut terguling ke dalam jurang di Tanjakan Cae, hingga Ki Jebrag sendiri, bintang dan pimpinan grup tersebut tewas dalam kecelakaan tersebut.

“Saya masih duduk di bangku sekolah dasar ketika itu, sekitar tahun 1980-an. Waktu itu menyaksikan sendiri truk Rombongan Ki Jebrag Group terguling masuk jurang di tanjakan Cae. Banyak yang tewas, termasuk Ki Jebrag sendiri, tapi saya lupa berapa jumlahnya,” ujar Gumelar Mulyamihardja, petugas Direktorat Bea dan Cukai Kementrian Keuangan RI, kelahiran Cikareo Wado Sumedang. Ia pun mengaku kaget ketika menyaksikan di media televisi, tanjakan di kampungnya itu kembali memakan korban jiwa yang cukup banyak.

Gumelar mengenang, sejak dulu tanjakan Cae memang terkenal rawan kecelakaan. Tanjakannya panjang, turunannya curam, dan berkelok-kelok membelah kaki Gunung Cakrabuana di kawasan timur Kabupaten Sumedang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut. “Dulu masih sepi, kalau berangkat sekolah, saya sering jalan kaki melewati tanjakan itu, lumayan berkeringat. Dan seingat saya, dulu di kawasan itu, sekitar 50 meter dari jalan ada sebuah curug (air terjun-red). Saya sering main ke situ bersama anak-anak Desa Cikareo lainnya,” kenang Gumelar, mantan Ketua OSIS SMAN 1 Sumedang angkatan 1996 ini.

Tanjakan Cae memang tak asing bagi Gumelar. Menurutnya, panjang jalur tanjakan itu sekitar 2 kilometer. “Kalau dari arah Sumedang itu melewati Desa Cikareo Selatan dan Desa Sukajadi, ujungnya di Desa Cilengkrang berbatasan langsung dengan Malangbong Kabupaten Garut. Dulu jalannya sempit. Di sebelah kirinya tebing, dan sebelah kanannya dulu cuma toangan (areal persawahan-red),” katanya. Meski dulu cuma tebing dan toangan saja di kedua sisi tanjakan tersebut, namun Gumelar mengaku tidak pernah mengalami atau mendengar ada mitos atau kesan angker di kawasan tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, putra desa Cikareo lainnya, Bagoes Noerochmat mengatakan hal yang sama. Menurut anggota DPRD Sumedang ini , seumur lahir hingga kini, ia tidak pernah mendengar kisah, kesan atau peristiwa angker di tanjakan tersebut. “Saya tak pernah mendengar ada mitos atau kisah horor. Malah di sisi kiri dan kanan jalan suka terlihat pemuda desa yang nongkrong, atau pejalan kaki penduduk setempat,” kata Bagoes.

Ia pun mengatakan, beberapa kejadian laka pernah terjadi sebelumnya, dan bus masuk jurang itu yang paling buruk dalam dua dekade terakhir. Penyebab rawannya tanjakan tersebut, kata Bagoes, karena memang secara geografis, sudut kemiringan tanjakan itu cukup curam, serta tanjakan yang panjang. Menurutnya, laka lantas di kawasan tersebut lebih banyak disebabkan kondisi teknis kendaraan atau human eror. “Biasanya karena rem blong, atau karena supirnya yang kurang menguasai medan tanjakan tersebut, ujarnya.

Sementara kondisi badan jalan sendiri, kata Bagoes saat ini sudah beraspal mulus. “Empat tahun lalu badan jalannya diperlebar, meski memang sudut kemiringan jalan tidak diperbaiki. Pihak propinsi selalu mengaspal mulus jalan tersebut, karena memang intensitas kendaraan di jalur Sumedang-Garut-Tasik ini termasuk padat, dan selalu menjadi jalur alternatif saat penanganan arus mudik lebaran,” terang Bagoes. Ia pun berandai-andai, kalau saja supir Bus Maut Maju Jaya tidak panik saat mengalami rem blong, kata Bagoes, bus itu seharusnya dibanting ke arah tebing di bagian kanan. “Kalau dibanting ke kanan ceritanya bisa lain. Tapi ya itulah takdir musibah, kita tidak pernah tahu,” kata Bagoes.

Kisah musibah Bus Maut Maju Jaya milik pengusaha angkutan asal Kec Darmaraja Sumedang yang menewaskan 12 orang itu memang menarik perhatian media massa nasional baik cetak maupun elektronik. Dalam tiga hari terakhir, Sumedang nampak sibuk dan berkali-kali muncul dalam headline serta news-stiker media televisi nasional. Media lokal pun tak ketinggalan. Boleh jadi, karena trend pemberitaan kecelakaan saat ini tengah meningkat setelah kasus laka di Tugu Tani Jakarta sebelumnya. ***

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Februari 2012 in Artikel

 

Tag: , , , ,